Bajing Melintas di Kabel Listrik

Bajing Melintas di Kabel Listrik   Suatu pagi di jalan, sekilas pintas terlihat oleh saya seekor bajing berlari diatas kabel listrik tebal yang melintang di atas jalan tersebut. Jalan yang saya lalui pagi itu adalah suatu jalan tembus, dan karena namanya jalan tembus, tentu saja semua orang ingin memanfaatkannya sehingga dengan segera jalan tembus itu lantas berkategori “padat merayap”—artinya di dalam mobil yang merayap perlahan-lahan … Lanjutkan membaca Bajing Melintas di Kabel Listrik

Lipstik

Lipstik                 Suatu malam aku jatuh cinta kepada seorang penyanyi bar. Aku tak tahu mengapa aku begitu mudah jatuh cinta. Masalahku sehari-hari adalah masalah pekerjaan. Setiap hari aku bergulat untuk mencari makan. Setiap hari aku berusaha untuk tetap hidup dan tidak mati kelaparan. Setidaknya aku selalu berusaha untuk tidak menjadi pengemis. Tidak hidup dari belas kasihan orang lain. Selama ini, wanita bagiku hanya seperti segelas … Lanjutkan membaca Lipstik

Senja dan Sajak Cinta

Senja dan Sajak Cinta   Senja adalah semacam perpisahan yang mengesankan. Cahaya emas berkilatan pada kaca jendela gedung-gedung bertingkat, bagai disapu kuas keindahan raksasa. Awan gemawan menyisih, seperti digerakkan tangan-tangan dewa. Cahaya kuning matahari melesat-lesat. Membias pada gerak jalanan yang mendadak berubah bagai tarian. Membias pada papan-papan reklame. Membias pada percik gerimis dari air mancur. Membias diantara keunguan mega-mega. Maka langit bagaikan lukisan sang waktu, … Lanjutkan membaca Senja dan Sajak Cinta

Dongeng Sebelum Tidur

Dongeng Sebelum Tidur — “Jadi, mereka tidur sambil memandang rembulan, Mama?” Ibunya hanya tersenyum, memandang keluar jendela. Ada rembulan di luar sana. “Kututup gordennnya Sari?” “Biarkan begitu Mama, aku ingin memandnag rembulan itu, seperti mereka.” Ibunya menahan sesuatu yang hampir dikatakannya. Lantas mengecup pipi Sari. “Selamat tidur Sari.” “Selamat malam Mama.” Lantas ibunya mematikan lampu, menutup pintu, meninggalkan Sari sendirian. Sari memiringkan kepalanya, matanya berkedipi-kedip … Lanjutkan membaca Dongeng Sebelum Tidur

Seni dan Air Seni Sopir Taksi

       Seni dan Air Seni Sopir Taksi     “Kalau ada bau pesing di tempat kering, boleh jadi bekas kencing sopir taksi.”     Bermobil di Jakarta adalah salah satu cara tersiksa. Namun seberat apapun manusia Jakarta mengeluh, penderitaannya tidak akan seberat sopir taksi, karena kehidupan sopir taksi justru berada dalam kemacetan itu. Supaya selamat, sopir taksi melakukan pekerjaannya dengan suatu seni. Manusia Jakarta perlu AC … Lanjutkan membaca Seni dan Air Seni Sopir Taksi

Jakarta Tidak Gemerlapan

Jakarta Tidak Gemerlapan        Kegemerlapan Jakarta adalah cermin kepahitan yang gagal diredamnya. Barangkali sudah waktunya menyadari, Jakarta bukanlah kota gemerlapan seperti yang ditampilkan oleh kemasan media massa. Segitiga Emas hanyalah suatu kavling terbatas, sisanya adalah keremangan yang sia-sia berusaha mempertahankan mimpi dengan kegemerlapan semu. Kafe-kafe memang tertata dengan nyaman, dengan nama makanan yang susah diucapkan dan gaya para pemakan yang menguji coba table manner … Lanjutkan membaca Jakarta Tidak Gemerlapan

Perkenalkan: Ali Oncom

Perkenalkan: Ali Oncom   Studi sosiologi pertama yang saya baca mungkin adalah Pemuda dan Perubahan Sosial terbitan LP3ES (Taufik Abdullah, ed., 1974), dan entah kenapa saya selalu teringat tulisan Amir Karamoy, “Peranan Komunikasi dan Pemanfaatan Waktu Luang dalam Kehidupan Pemuda di Jakarta,” yang berfokus kepada perilaku kaum muda di perkampungan miskin. Saya terkesan pada satu kesimpulan dalam penelitian itu, terutama tentang kecenderungan meniru: bahwa jurang … Lanjutkan membaca Perkenalkan: Ali Oncom

“Buntil! Buntil! Buntililililililililllll!!”

“Buntil! Buntil! Buntililililililililllll!!”   Di depan rumah saya, setidaknya seminggu sekali, selalu lewat penjual buntil: parutan kelapa, teri, dan cabai yang dibungkus daun singkong atau daun pepaya, yang dimasaknya entah diapakan, lantas dibungkus lagi dengan daun pisang dan dikunci dengan lidi. Semuanya ekologis, kalau dibuang bisa larut ke dalam tanah. Sebetulnya, pedagang itu tidak hanya menjual buntil, tapi juga botok: adonan parutan kelapa, teri, dan … Lanjutkan membaca “Buntil! Buntil! Buntililililililililllll!!”

Air Terjun di Dalam Rumah

Air Terjun di Dalam Rumah   Dengan membeli air terjun, apakah manusia Jakarta menciptakan semesta dalam dirinya? Ada sebuah cerita tentang Sjuman Djaya (1934-1985), sutradara film Indonesia yang kontroversial. Di dalam rumahnya, di Jalan Kotabumi No.1 terdapat sebuah air terjun kecil yang berkericik. Konon setiap kali bangun, dan biasanya siang, ia menyempatkan diri duduk diam di depan air terjun itu, merenung, “Memikirkan hal yang baik,” … Lanjutkan membaca Air Terjun di Dalam Rumah

Antara New York dan Jakarta

Siapa bisa menjamin tidak ada orang berpikir untuk menghancurkan Monas? Menara Kembar yang telah menjadi ikon New York itu dipilih untuk diledakkan, karena para teroris memang ingin melecehkan sebuah citra, dan citra itu adalah citra Amerika. Bagaimanakah suatu bangunan menjadi citra Amerika? Pertama, bahwa keduanya disebut World Trade Center atawa Pusat Perdagangan Dunia, sehingga sekaligus juga menjadi monumen bagi semangat dagang yang merupakan jalan hidup … Lanjutkan membaca Antara New York dan Jakarta