JOKOWI, KOK GITU?

PANAJOURNAL : OBROLAN SUKAB Oleh Seno Gumira Ajidarma,   “Nggak abis pikir deh Dul,” Sukab lepasin kopiah, usap-usapin rambut, lantes pasang lagi kopiahnya, “bener-beneeeeerrrr nggak abis pikir.” Jalanan mingsih rame meski kaga’ kayak tadi siang. Sembari nyamber mendoan, Sukab terusin doi punya omongan. “Kirain Jokowi tuh temenan ame Ahok, eh pegimane rasenye Ahok sekarang ye? Ape cumak akibat pengin menang aje Jokowi tuh milih pasangan, … Lanjutkan membaca JOKOWI, KOK GITU?

The Mahabharata in Comics

Written by Seno Gumira Ajidarma for Inside Indonesia 121: Jul-Sep 2015  Teguh Santosa was able to overcome a challenge that any comic artist undertaking the Mahabharata must face: the representation of the Bahgavadgita (the translation of the text can be found at the conclusion of the article). Indonesians are currently crazy about the Mahabharata series screening on AnTV. This comes not long after viewers enjoyed the Mahadeva, … Lanjutkan membaca The Mahabharata in Comics

[ARSIP] Media Sebagai Panglima (Orasi SGA utk Pesta Media 2013)

Media sebagai Panglima Orasi untuk Pesta Media 2013 Puan-puan dan Tuan-tuan yang Terhormat, Media bukanlah kenyataan, media adalah konstruksi kenyataan, dengan pencapaian yang sangat berdaya, sehingga nyaris merupakan ilusi kenyataan yang sempurna. Dalam pencapaian ini, media menjadi situs perjuangan berbagai kelompok, untuk menancapkan versi kenyataan menurut kepentingannya masing-masing, dalam suatu proses hegemoni tanpa akhir. Dalam proses sosial politik semacam itulah, berlangsung perlawanan kelompok terbawahkan maupun … Lanjutkan membaca [ARSIP] Media Sebagai Panglima (Orasi SGA utk Pesta Media 2013)

Metakomik Scott McCloud

Metakomik Scott McCloud Seno Gumira Ajidarma Metakomik adalah komik tentang komik. Dalam konteks perjuangan bahasa, metakomik tercapai dalam kurun waktu yang terlalu lama meskipun jika patokan kelahiran komik mengambil waktu yang paling muda, yakni 1896 (The Yellow Kid, Richard Felton Outcault), karena faktor determinan kehidupan komik lebih banyak membentuk praksis lahirnya karya komik, dan bukannya perbincangan teoretis tentang komik itu sendiri. Teori-teori komik berkembang terbatas … Lanjutkan membaca Metakomik Scott McCloud

pantun melayu: Keindahan dan Perlawanan

pantun melayu Keindahan dan Perlawanan Oleh: Seno Gumira Ajidarma Kanon keindahan adalah mitos, yang dilahirkan oleh suatu konotasi ideologis, yang dari waktu ke waktu telah terus-menerus disempurnakan, sehingga menjadi tonggak dalam sejarah sastra yang tidak bisa dihapuskan lagi—dengan suatu dampak sosial, bahwa bentuknya kemudian menjadi standar keindahan. Bagi para penulis yang telanjur beriman kepada suatu keyakinan atas standar tertentu, di dalam standar itulah terdapat ”substansi” … Lanjutkan membaca pantun melayu: Keindahan dan Perlawanan

Koran, Janganlah Hilang

Koran Janganlah Hilang… Oleh: Seno Gumira Ajidarma   Pada hari Kamis, 26 Februari 2009, saya membaca berita tentang peluncuran dua buku Atmakusumah Astraatmadja, seorang wartawan senior, pada ulang tahun ke-70 dalam koran The Jakarta Post di bawah judul ”Partisan print media proven short-lived”. Bukanlah maksud saya untuk bersikap kritis jika menyebutkan betapa judul kedua buku tersebut dianggap ”bukan berita” sehingga tidak akan kita ketahui judulnya … Lanjutkan membaca Koran, Janganlah Hilang

Fotografi Caleg: Siapa Sudi Kena Kibul?

Fotografi merupakan pengikisan bahasa dan pemampatan atas yang tidak terkatakan secara sosial, menjadikannya senjata antiintelektual dengan semangat menyisihkan ’politik’ (sebagai lembaga problem dan solusi), untuk melaju sebagai status sosio-moral. Begitulah fotografi berada di atas segala pengetahuan atas sesuatu yang dalam dan irasional dengan ko-ekstensi dalam politik. Melalui foto, sang calon menjadi produk, contoh, dan umpan, bukan dari programnya, melainkan motifnya yang terdalam, keluarganya, mentalnya, bahkan lingkungan erotiknya, seluruh gaya hidupnya.
Lanjutkan membaca Fotografi Caleg: Siapa Sudi Kena Kibul?

Bajing Melintas di Kabel Listrik

Bajing Melintas di Kabel Listrik   Suatu pagi di jalan, sekilas pintas terlihat oleh saya seekor bajing berlari diatas kabel listrik tebal yang melintang di atas jalan tersebut. Jalan yang saya lalui pagi itu adalah suatu jalan tembus, dan karena namanya jalan tembus, tentu saja semua orang ingin memanfaatkannya sehingga dengan segera jalan tembus itu lantas berkategori “padat merayap”—artinya di dalam mobil yang merayap perlahan-lahan … Lanjutkan membaca Bajing Melintas di Kabel Listrik

Novelisasi Film: Sebuah Pengalaman dengan Biola Tak Berdawai

                Novelisasi Film: Sebuah Pengalaman dengan Biola Tak Berdawai          Sebagai penulis, saya menganggap diri saya sebagai tukang, dengan begitu saya merasa wajib mempelajari segala bentuk penulisan, agar mampu melayani semua pesanan. Dalam kenyataannya, saya memang berusaha memenuhi segala pesanan. Bagi mereka yang merasa dirinya penulis besar barangkali ini memalukan sekali. Contoh-contoh pesanan ini seperti berikut: “Tolong bikinkan cerpen dengan Tema No.1 karena untuk terbitan … Lanjutkan membaca Novelisasi Film: Sebuah Pengalaman dengan Biola Tak Berdawai

LEPAS LANDAS

Jakarta, Jumat Legi 20 Februari 1998 LEPAS LANDAS                Bung, Siapa dulu yang suka ngomong lepas landas? Wah, kalau saya ingat-ingat masa lalu, geli saya. Setidaknya tiga istilah laku keras: lepas landas, globalisasi, dan memasuki abad XXI. Mulai dari pejabat tinggi sampai pejabat ceremende, berbusa-busa mulutnya oleh omong kosong, pernyataan-pernyataan tanpa dasar, prediksi tanpa penelitian, asal mangap, waton suloyo. Padahal para birokrat itu kebanyakan juga bangsanya … Lanjutkan membaca LEPAS LANDAS

Plagiarisme dan Kepengarangan

Plagiarisme dan Kepengarangan          Belum jelas sejak kapan sejarah plagiarisme di Indonesia dimulai. Tetapi, dalam dunia kesusastraan Indonesia, pagi-pagi HB Jassin sudah harus membela Chairil Anwar yang telah menjadi ikon kesusastraan Indonesia, melalui buku kritik sastra berjudul Chairil Anwar: Pelopor Angkatan 45 (1956), dari tuduhan banyak orang yang menyatakan dan ”membuktikan” bahwa penyair itu adalah plagiator. Kreativitas plagiator? Bagi HB Jassin, tuduhan semacam itu memiliki … Lanjutkan membaca Plagiarisme dan Kepengarangan

Kehidupan Sastra dalam Pikiran

Kehidupan Sastra dalam Pikiran        Ketika Jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena bila Jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran. Fakta-fakta bisa diembargo, dimanipulasi, atau ditutup dengan tinta hitam, tapi kebenaran muncul dengan sendirinya, seperti kenyataan. Jurnalisme terikat oleh seribu satu kendala, dari bisnis sampai politik, untuk menghadirkan dirinya, namun kendala sastra hanyalah kejujurannya sendiri. Buku sastra bisa dibredel, tapi kebenaran dan kesusastraan menyatu … Lanjutkan membaca Kehidupan Sastra dalam Pikiran

Wakil Rakyat

Wakil Rakyat   Bung, Seorang Rakyat ketemu Seorang Wakil Rakyat yang sedang nongkrong di warung bajigur di depan TIM. “Wah, merakyat juga ente,” kata Rakyat. “Yah, pantes-pantesnyalah, namanya juga Wakil Rakyat.” “Lho, sebetulnya ente tidak merakyat?” “Tidak terlalu, saya cuma pura-pura merakyat.” “Busyet, ente mewakili rakyat mana sih?” “Natuna, Talaud, dan Sangihe.” “Astaga, mana tuh?” “ada kok di peta, kecil-kecil.” “Ente asal sana?” “Bukan.” “Ente … Lanjutkan membaca Wakil Rakyat

Negeri Tikus

Negeri Tikus                                        Jakarta, Jumat Kliwon 12 September 1997                  Bung, Bukalah mata anda dan perhatikan sekeliling anda, maka anda akan melihat manusia-manusia, yang hanya badannya saja seperti manusia, namun sebenarnya dalam badan itu bersemayam jiwa seekor tikus. Barangkali dalam kehidupan sebelumnya, mereka semua memang tikus, dan karena menjalankan perannya dengan baik sebagai tikus, dalam reinkarnasi mereka menjadi manusia. Sayang sekali, meskipun sudah menjadi manusia … Lanjutkan membaca Negeri Tikus

Sang Kolektor

Catatan Desember: Sang Kolektor                                                      Konsumsi terdahsyat tahun ini tentulah arca abad IV. Bukan main! Jangan salah tafsir, pada dasarnya saya menghargai para kolektor karena, tanpa mereka, kondisi dokumentasi di Indonesia akan lebih mengenaskan. Bukankah HB Jassin dahulu membeli segala macam buku secara kiloan, dengan tujuan menjadikannya dokumentasi sastra, yang terbukti kemudian pernah menjadi terlengkap di Indonesia dan menjadi rujukan dunia? Arswendo Atmowiloto memiliki … Lanjutkan membaca Sang Kolektor

Kesucian

Catatan Desember:  Kesucian                                     Sayang sekali kesucian itu ada simbolnya. Tidak bisa suci saja, suci doang, suci thok—yakni kesucian sebagaimana dialami dan dirasakan. Seperti memandang bayi, kita langsung percaya bayi itu suci. Bahkan memandang anak balita yang paling nakal dan pencilakan—kita juga percaya anak itu kehidupannya (masih) murni. Bukan karena bayi atau anak balita adalah simbol kesucian (karena bukankah film horor kadang memberinya peran sebagai … Lanjutkan membaca Kesucian

Seni dan Air Seni Sopir Taksi

       Seni dan Air Seni Sopir Taksi     “Kalau ada bau pesing di tempat kering, boleh jadi bekas kencing sopir taksi.”     Bermobil di Jakarta adalah salah satu cara tersiksa. Namun seberat apapun manusia Jakarta mengeluh, penderitaannya tidak akan seberat sopir taksi, karena kehidupan sopir taksi justru berada dalam kemacetan itu. Supaya selamat, sopir taksi melakukan pekerjaannya dengan suatu seni. Manusia Jakarta perlu AC … Lanjutkan membaca Seni dan Air Seni Sopir Taksi

Jakarta Tidak Gemerlapan

Jakarta Tidak Gemerlapan        Kegemerlapan Jakarta adalah cermin kepahitan yang gagal diredamnya. Barangkali sudah waktunya menyadari, Jakarta bukanlah kota gemerlapan seperti yang ditampilkan oleh kemasan media massa. Segitiga Emas hanyalah suatu kavling terbatas, sisanya adalah keremangan yang sia-sia berusaha mempertahankan mimpi dengan kegemerlapan semu. Kafe-kafe memang tertata dengan nyaman, dengan nama makanan yang susah diucapkan dan gaya para pemakan yang menguji coba table manner … Lanjutkan membaca Jakarta Tidak Gemerlapan