Perempuan Menjahit Hujan

PEREMPUAN MENJAHIT HUJAN. Akhirnya catatan ini terkumpul menjadi satu buku. Jika kawan-kawan berminat, silakan hubungi ke nomor WA 0812 1619 705. Untuk kawan yang pernah memesan via FB, saya sudah mencatatnya. Tinggal mengirimkan alamat pengiriman bisa via FB atau WA ke nomor ini. Buku ini dikemas dalam plastik wrapping, jika ingin ada tanda tangan tukang nulisnya, silakan ditambahkan keterangan, plastiknya akan dibuka (tapi bukan tanda … Lanjutkan membaca Perempuan Menjahit Hujan

[Membaca Kembali] DILARANG MENYANYI DI KAMAR MANDI oleh SGA

Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi  Pada saat yang sudah ditentukan, Pak RT datang ke tempat itu. “Sabar Pak, sebentar lagi,” kata hansip. ”Waktunya selalu tepat pak, tak pernah meleset, ” sambung warga yang lain. Pak RT manggut-manggut dengan bijak. Ia melihat arloji. ”Masih satu menit lagi,” ujarnya. Satu menit segera lewat. Terdengar derit pintu kamar mandi. Serentak orang-orang yang mengiringi Pak RT mengarahkan telinganya ke … Lanjutkan membaca [Membaca Kembali] DILARANG MENYANYI DI KAMAR MANDI oleh SGA

Mayat Yang Mengambang Di Danau

Mayat Yang Mengambang Di Danau   Barnabas mulai menyelam tepat ketika langit bersemu keungu-unguan, saat angin dingin menyapu permukaan danau sehingga air berdesis pelan, sangat amat pelan, nyaris seperti berbisik, menyampaikan segenap rahasia yang bagai tidak akan pernah terungkapkan. Memang hanya langit, hanya langit itulah yang ditunggu-tunggu Barnabas, karena apabila kemudian ia menyelam di dekat batang-batang pohon ke bawah permukaan danau untuk menombak ikan, secercah … Lanjutkan membaca Mayat Yang Mengambang Di Danau

PRING RE-KE-TEG GUNUNG GAMPING AMBROL

PRING RE-KE-TEG GUNUNG GAMPING AMBROL Seno Gumira Ajidarma Ribuan orangbaik-baik telah berkumpul di atas bukit, siap menyerbu perkampungan para pencuri, perampok, pembunuh, dan pelacur, yang terletak di tepi sebuah sungai yang mengalir dan berkelok dengan tenang, begitu tenang, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih tenang, yang memantulkan cahaya kemerah-merahan membara di langit meskipun matahari sudah terbenam. Ribuan, barangkali lebih dari sepuluhribu, sebut saja beribu-ribu orang … Lanjutkan membaca PRING RE-KE-TEG GUNUNG GAMPING AMBROL

Dodolitdodolitdodolibret

Dodolitdodolitdodolibret oleh: Seno Gumira Ajidarma Kiplik sungguh mengerti, betapapun semua itu tentunya hanya dongeng. “Mana ada orang bisa berjalan di atas air,” pikirnya. Namun, ia memang berpendapat bahwa jika seseorang ingin membaca doa, maka ia harus belajar membaca doa secara benar. “Bagaimana mungkin doanya sampai jika kata-katanya salah,” pikir Kiplik, “karena jika kata-katanya salah, tentu maknanya berbeda, bahkan jangan-jangan bertentangan. Bukankah buku Cara Berdoa yang … Lanjutkan membaca Dodolitdodolitdodolibret

Ibu yang Anaknya Diculik Itu

KOMPAS Minggu, 16 November 2008 Ibu yang Anaknya Diculik Itu Seno Gumira Ajidarma Ibu terkulai di kursi seperti orang mati. Pintu, jendela, televisi, telepon, perabotan, buku, cangkir teh, dan lain-lain masih seperti dulu—tetapi waktu telah berlalu sepuluh tahun. Tinggal Ibu kini di ruang keluarga itu, masih terkulai seperti sepuluh tahun yang lalu. Rambut, wajah, dan busananya bagai menunjuk keberadaan waktu. Telepon berdering. Ibu tersentak bangun … Lanjutkan membaca Ibu yang Anaknya Diculik Itu

Teriakan di Pagi Buta

Teriakan di Pagi Buta   Pada hari lebaran itu Mintuk melihat Ngatiyo pulang kampung. Alangkah gagahnya dia. Lihatlah jaketnya, rambutnya yang berkilauan dipotong pendek dan rapi seperti sobekan gambar majalah diwarungnya Sabar gandhul, celananya ketat dan melilit bermerek lepis.  Waduh waduh alangkah berbedanya ngatiyo sekarang menurut pemandangan Mintuk. Dulu Ngatiyo, temannya menggembala kerbau dan kambing gombal dua biji itu, cuma bercelana hitam komprang yang lusuh.. … Lanjutkan membaca Teriakan di Pagi Buta

Suara-Suara

Suara-Suara   Aku bangun terlalu pagi. Biasanya aku bangun di atas jam dua belas. Entah kenapa aku bangun secepat ini. Dibawah pintu kulihat koran. Aku segera menyambar koran itu. Langsung membuka di tempat iklan-iklan yang menawarkan pekerjaan. Memang aku merasa cocok jadi bartender. Namun, aku tak terlalu tolol untuk terus menerus mengabdi pada pekerjaan itu. Aku datang jauh-jauh ke ibukota bukan untuk menjadi bartender, tukang … Lanjutkan membaca Suara-Suara

Bibir

Bibir     Ia memaki-maki. Aku telah memberikan minuman yang salah. Kalau bukan dia yang memaki-maki sekasar itu, aku tak terlalu kaget. Bar tempatku bekerja itu adalah bar murahan. Di sini tidak ada sopan-santun bergaya anggun. Para pedagang yang jenuh bermanis-manis dan bersopan santun sepanjang hari, memuas-muaskan keliarannya. Mereka minum banyak-banyak. Mereka bicara banyak-banyak. Dan meraka tertawa banyak-banyak. Mereka bisa memaki-maki dengan bebas dan bisa dimaki-maki … Lanjutkan membaca Bibir

Lipstik

Lipstik                 Suatu malam aku jatuh cinta kepada seorang penyanyi bar. Aku tak tahu mengapa aku begitu mudah jatuh cinta. Masalahku sehari-hari adalah masalah pekerjaan. Setiap hari aku bergulat untuk mencari makan. Setiap hari aku berusaha untuk tetap hidup dan tidak mati kelaparan. Setidaknya aku selalu berusaha untuk tidak menjadi pengemis. Tidak hidup dari belas kasihan orang lain. Selama ini, wanita bagiku hanya seperti segelas … Lanjutkan membaca Lipstik

Senja dan Sajak Cinta

Senja dan Sajak Cinta   Senja adalah semacam perpisahan yang mengesankan. Cahaya emas berkilatan pada kaca jendela gedung-gedung bertingkat, bagai disapu kuas keindahan raksasa. Awan gemawan menyisih, seperti digerakkan tangan-tangan dewa. Cahaya kuning matahari melesat-lesat. Membias pada gerak jalanan yang mendadak berubah bagai tarian. Membias pada papan-papan reklame. Membias pada percik gerimis dari air mancur. Membias diantara keunguan mega-mega. Maka langit bagaikan lukisan sang waktu, … Lanjutkan membaca Senja dan Sajak Cinta

Kisah Seorang Penyadap Telepon

Kisah Seorang Penyadap Telepon   Hari ini aku menyadap lagi. Aku memang berasal dari keluarga penyadap. Kakekku seorang penyadap karet. Ayahku seorang penyadap nira. Aku sendiri seorang penyadap telepon. Setiap hari aku berangkat dari rumah naik bis lewat jalan tol dan begitu  tiba di kantor aku langsung melakukan penyadapan. Di mejaku sudah ada daftar orang-orang yang pembicaraannya lewat telepon harus disadap. Waktu baru diterima dikantor … Lanjutkan membaca Kisah Seorang Penyadap Telepon

Patung

P A T U N G                            Duaratus tahun kemudian, seorang nenek berkata kepada cucunya, sambil menunjuk diriku. “Lihatlah orang bodoh itu,” katanya, “ia berdiri terus disitu, menunggu kekasihnya sampai menjadi patung.” Kulihat  gadis disampingnya, menggandeng neneknya dengan hati-hati. Agaknya nenek itu sengaja membawa gadis manis cucunya itu kesini untuk memberinya pelajaran. “Jangan pernah engkau sudi menunggu kekasih yang meninggalkanmu tanpa kepastian untuk kembali. Nanti … Lanjutkan membaca Patung

Hujan, Senja, dan Cinta

Hujan, Senja, dan Cinta                                      Karena ia mencintai dia, dan dia menyukai hujan, maka ia menciptakan hujan untuk dia .1 Begitulah hujan itu turun dari langit bagaikan tirai kelabu yang lembut dengan suara yang menyejukkan. Dia sudah tahu saja dari mana hujan itu datang.duduk di depan jendela, diusapnya kaca jendela yang berembun. Jari-jari-nya yang mungil mengikuti aliran air yang menurun perlahan di kaca itu. ”Hujan, … Lanjutkan membaca Hujan, Senja, dan Cinta

Tujuan: Negeri Senja

Tujuan: Negeri Senja                              Di stasiun Tugu, Yogyakarta, ada sebuah loket yang istimewa. Loket itu tidak menjual tiket ke Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Tempatnya terpisah dan nampaknya selalu sepi pembeli. Padahal di masa krisis seperti sekarang, kereta api menjadi pilihan utama, meskipun harga tiketnya sangat mahal. Apa boleh buat, karena tiket pesawat luar biasa mahal, dan boleh dibilang tidak masuk akal, harga tiket kereta api … Lanjutkan membaca Tujuan: Negeri Senja

Matahari Tidak Pernah Terbenam di Negeri Senja

Matahari Tidak Pernah                     Terbenam di Negeri Senja                                            Hidupku penuh dengan kesedihan – karena itu aku selalu mengembara. Aku selalu berangkat, selalu pergi, selalu berada dalam perjalanan, menuju ke suatu tempat entah di mana, namun kesedihanku tidak pernah hilang. Kesedihan, ternyata, memang bukan sesuatu yang bisa ditinggalkan, karena kesedihan berada di dalam diri kita. Aku selalu mengira kalau melakukan perjalanan jauh maka kesedihan … Lanjutkan membaca Matahari Tidak Pernah Terbenam di Negeri Senja

Sarman

S A R M A N                         Ceritakanlah padaku tentang kejenuhan,” kata Alina pada juru cerita itu. Maka Juru cerita itu pun bercerita tentang Sarman: Pada suatu hari yang cerah, pada suatu hari gajian, Sarman membuat kejutan. Setelah menerima amplop berisi uang gaji dan beberapa tunjangan tambahan, dan setelah menorehkan paraf, sarman termenung-menung. Tak lama. Ia segera berteriak dengan suara keras. ”Jadi, untuk ini aku … Lanjutkan membaca Sarman

Linguae

Linguae        Seperti cinta,” kataku. “Ya. Seperti cinta,” katanya. Dalam remang, entah pagi entah siang entah sore entah malam, kami terus menerus saling menguji daya cinta lidah kami. Selalu remang. Hanya remang. Lebih baik remang—karena cinta yang jelas dan terang, yakin dan pasti, bersih dan steril, seperti bukan cinta lagi. Jadi memang tak bisa kulihat wajahnya dengan jelas—apakah  yang masih bisa dilihat dari sebuah wajah … Lanjutkan membaca Linguae

Pelajaran Mengarang

Pelajaran Mengarang        Pelajaran mengarang sudah dimulai. Kalian punya waktu 60 menit”, ujar Ibu Guru Tati. Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia”. Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”. Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus … Lanjutkan membaca Pelajaran Mengarang

Mestikah Kuiris Telingaku Seperti Van Gogh?

Mestikah Kuiris Telingaku Seperti Van Gogh?                           “Lihatlah bagaimana aku mencintaimu kekasihku. sudah begitu lama kita berpisah, tapi aku ingin mengawinimu. Telah kuraih gelar MBA dari harvard. Telah kududuki jabatan manajer perusahaan multinasional. Telah kukumpulkan harta benda berlimpah-limpah. Kawinlah denganku. Kuangkat kamu dari lembah hitam. Marilah jadi istriku. Jadi orang baik-baik, terhormat dan kaya. Ayo pergi dari sini, kita kawin sekarang juga.” Ia tersenyum, masih … Lanjutkan membaca Mestikah Kuiris Telingaku Seperti Van Gogh?